Sunday, November 8, 2009

BERPIKIR DAN BERJIWA BESAR

Ada sebuah kisah dimana pada waktu itu ada seorang anak yang melakukan kegiatan diluar kebiasan anak-anak seusianya. Seorang guru baru menyadari hal itu ketika ia meminta murid-muridnya menggambarkan sesuatu. Sang anak hanya mewarnai kertas gambarnya dengan warna hitam kelam dan hal ini lah yang dilakukan sang anak berulang-ulang, pun ketika ia berada di rumah. Sang ibu yang merasa khawatir dengan kebiasaan anaknya itu setelah bersepakat dengan suaminya. mereka berdua berencana membawa sang anak ke seorang psikiater.
Sang psikiater dengan dibantu oleh beberapa temannya mencoba melakukan penelitian terhadap sang anak. Dia diminta untuk melakukan hal sama seperti yang ia lakukan seperti biasa. Sang anak sudah menghabiskan setidaknya 400 lembar kertas gambar dengan ukuran yang sama. Gambar yang ia buat pun seperti biasanya hanya berupa lembaran-lembaran kertas berwarna hitam. Namun yang menarik adalah tidak semua kertas diwarnai secara utuh. Ternyata gambar yang dibuat merupakan sebuah gambar bercorak. Tidak semuanya hitam, tetapi beberapa sisi terlihat sebagain berwarna putih bahkan ada yang hampir sepenuhnya tidak berwarna. Sungguh menakjubkan, ternyata gambar yang dibuat itu merupakan serangkaian puzzel yang ketika disusun ternyata membentuk seekor paus putih dengan ukuran sebenarnya.
Dari cerita di atas kita sebenarnya dapat mengambil sebuah hikmah dimana saat ini kita sedang membicarakan orang-orang yang berpikir dan berjiwa besar, yaitu orang-orang memilki sebuah mimpi dan dia menganggap mimpi itu adalah cita-cita yang memiliki jangka waktu. Dia berpikir bahwa keyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin dan mimpi hari ini adalah kenyataan hari esok. Sang anak mungkin tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh orang-orang disekitarnya karena ia memiliki sebuah cita-cita besar yang ingin ia wujudkan dan memang pada hakikatnya ada sebuah konsekuensi yang harus kita terima dari setiap apa yang kita pikirkan. Bagi orang-orang yang berjiwa besar ia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada dirinya. Sesulit apapun jalan yang akan ia tempuh, ia akan tetap melaluinya karena hal itu menjadi bagian dari sekenario besar yang telah ia siapkan.
Ditangan kanannya ada sebuah visi, dan ditangan kirinya ada sebuah misi. Azam yang kuat menjadi suatu yang mengakar didalam hatinya. Dan inilah yang menjadikannya tetap hidup ditengah orang-orang yang jiwanya telah mati atau disekumpulan orang-orang yang sudah kalah dan menyerah kepada Takdir yang telah memilihnya. Tapi tidak bagi orang-orang berpikir dan berjiwa besar, mereka memilih takdir mereka masing-masing. Bukankah Allah SWT telah mengatakan bahwa Ia tidak akan merubah kondisi suatu kaum sebelum kaum itu merubah dirinya sendiri. Maka orang-orang inilah yang senantiasa terbuka terhadap perubahan itu.