Sunday, July 26, 2015

Kembali Pada Fitrah Kita


Baru saja mengikuti acara akikahan putra dari saudara Ipar di daerah tegal waru kab.Bogor. Sejak tujuh hari dilahirkannya sang bayi menjadi sunnah ketika memotong kambing dan mencukur rambut bayi agar kelak tiada hutang baginya. Bayi yang baru lahir sejatinya masih bersih dari segala macam bentuk dosa apa pun dan itulah fitrahnya. Untuk itulah mengapa manusia selepas Ramadhan ini disebut kembali kefitrahnya dengan amalan wajib dan sunnah yang dilakukannya. Amalan kebaikan yang dilakukannya menjadi pemberat timbangan kebaikannya di hari akhir nanti sehingga dosa yang telah ia perbuat dulu, saat ini dan nanti akan terbayarkan dengan kebaikannya itu.


Alhamdulillah Bogor hari ini hujan, begitupun dengan kota-kota lainnya seperti Bandung selepas shalat Istisqo dilakukan yang didukung oleh beberapa kepala daerah seperti Gubernur Jawa Barat Ahmad heryawan dan Walikota Bogor Bima Arya. Orang-orang sekuler liberal pasti tertawa melihat apa yang dilakukan oleh umat muslim ini. Dan kalau hujan itu tidak turun maka semakin keraslah tawa mereka dan Kalau pun turun mereka kira itu hanya kebetulan.


Kesombongan akal pikiran akan Ilmu pengetahuan menjadikan mereka makhluk yang congkak merasa bisa melakukan segalanya. Bagi mereka hujan itu adalah persoalan pertemuan antara uap air dan suhu dingin semata. Merasa memahami perilaku alam mereka berkehendak untuk mengatur alam sperti keinginannya. Ketika kemarau datang mereka hendak membuat hujan buatan dengan menaburkan berton - ton garam ke udara berharap alam menuruti keinginannya padahal persentase keberhasilannya sangat kecil. Jika hujan turun mereka tertawa sombong kalaupun tidak, anggapan mereka usahanya kurang maksimal. Sebagaimana kita ketahui sekulerisme itu bukan sekedar memisahkan agama dalam kehidupan, tapi juga lambat laun menghilangkan eksistensi agama dalam diri manusia.


Kembali lagi ke persoalan fitrah, mengembalikan segala sesuatu kepada penciptaNya juga merupakan salah satu fitrah kita sebagai manusia. Setelah kita berupaya dengan keterbatasan kemampuan akal kita menyelesaikan persoalan alam ini maka kita menyerahkan kembali semuanya kepada Yang Memilik Alam dan itu kita sebut sebagai Tawakal. Sebuah jalan yang membimbing kita kepada fitrah seorang insan. Mempersilahkan kepadaNya untuk Berkehendak agar setiap unsur-unsur alam yang menciptakan hujan seperti uap air, udara dan cahaya matahari untuk saling bertemu dan berpadu dengan selaras mengikuti apa yang diperintahkan oleh Tuhannya agar dengannya tanah-tanah gersang menjadi hidup, pohon-pohon dapat tumbuh dan kendi-kendi air terisi penuh. Bukankah dulu sebelum kita disebut sebagai apapun kita sudah bersaksi,


"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",(Al-'A`rāf :172)
Sehingga mengembalikan segala sesuatu pada Allah adalah fitrah Kita.


Manusia dikaruniakan akal yang begitu luar biasa dimana dengan akal itu terkuak sudah sebagian kecil rahasia kehidupan yang telah Allah sebutkan didalam Al-Qur'an. Dimulai dari penciptaan manusia dalam rahim sampai berkembangnya alam semesta ini diluar angkasa. Berbagai teori telah digulirkan tentang proses pembentukan janin sampai kita pun bisa membantu proses pembentukannya melalui inseminasi buatan. Berbagai alat transportasi dibuat sedemikian rupa dengan memanfaatkan unsur alam seperti tanah didaratan, air dilautan dan udara disekitar kita memunginkan manusia berpindah dengan cepat dan efisien. Permukaan bumi kita gali dan lubangi untuk mengambil unsur alam berupa minyak dan batu bara serta panas bumi untuk memenuhi kebutuhan energi, transportasi dan industri. Semua itu tidak bisa dilakukan tanpa karunia akal yang kita terima. Namun apakah akal tersebut bisa membawa pada fitrah kita, tidak ada yg tahu.


Ramadhan telah kita lalui, mudah-mudahan tempaan yang kita alami selama sebulan ini memberikan kesadaran akan kefitrahan kita sebagai manusia. Manusia sering lupa memang menjadi fitrahnya sehingga sering berbuat dosa Tapi sudah menjadi fitrahnya untuk kembali padanya. Berserah diri dan bertawakal kepadanya. Dan Dialah satu-satunya Allah yang kita butuhkan.
Bogor, 26 Jul 2015